Jumat, 20 Desember 2013
Sabtu, 14 Desember 2013
Tahu Asin
Kita pasti punya banyak alasan untuk tidak membeli tahu asin yang dijajakan pedagang asongan di pom bensin ataupun bus bumel. Mungkin karena kita memang tidak suka tahu asin, mungkin karena tidak punya uang, mungkin juga kita berasumsi tahu asinnya sudah tidak enak lagi. Tetapi para pedagang itu tetap saja menjajakkan dagangan mereka, mengharapkan rupiah demi rupiah dari pembeli yang tidak tentu. Apakah mereka tidak punya pilihan pekerjaan lain?
Tentu mereka memiliki banyak pilihan. Menjadi guru, politisi, ulama, pemimpin, astronot, pencari fakta, atau apapun itu. Tetapi dari sekian banyak pilihan, jalan hidup mereka bermuara pada tahu asin, sebuah makanan rakyat kecil yang memohon untuk dijajakan.
Nasib yang lebih baik berpihak pada kerabat si tahu asin, tahu bakso. tahu berisi daging giling yang di-bakso-kan ini memiliki daya jual yang lebih tinggi dan rasa yang lebih beragam. para penjual tahu bakso pun lebih bervariasi, dari mengantar tahu ke warung-warung mi ayam hingga memiliki brand dan outlet sendiri. Bukan tahu bakso yang menentukan nasibnya, tetapi pembuat dan penjualnya yang menentukan pilihan.
Penjual tahu bakso barang tentu sudah memikirkan matang-matang usaha yang akan mereka lakukan menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Dengan persiapan yang matang, usaha tahu bakso pun sukses, jauh dari usaha tahu asin yang berkelas bus ekonomi.
Tidak ada seorang pun yang bercita-cita mendapat penolakan dari orang-orang di bus begitu sering seperti yang dialami para pedagang tahu asin. Jika dibandingkan dengan usaha tahu bakso, tentu usaha tahu asin hanya sekecil debu di pelupuk mata dan terkesan 'kurang berusaha' (Kita tahu bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka).
Akan tetapi, debu bukanlah struktur terkecil di muka bumi ini bukan? Mereka-mereka yang hanya bermodal tampang memelas (tetapi badan bugar) dan mangkuk plastik lah struktur yang lebih kecil dan ringan. Tuhan tentu tidak akan mengubah nasib mereka sebelum mereka menutup mangkuk plastik itu.
Jumat, 01 November 2013
Spion Robby
"Tenanglah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayo berangkat!"
Berangkatlah kami, memenuhi undangan itu.
Hal yang buruk yang kadang terlintas, terpikir, terbayang, memang tidak harus diutarakan. Karena bila pun kejadian buruk itu terjadi, tahu atau tidak tahu kita sebelumnya, tentulah akan terjadi.
Tetapi, jika kita mengetahui lebih awal, tentu kita akan dapat mengantisipasi, bukan?
Ya. Segera setelah saya mendengar kata-kata Robby kala itu, saya juga sudah mencoba mengantisipasinya. Sepanjang jalan saya juga terus berdoa agar diberi kelancaran dalam perjalanan menuju tempat tujuan bersama Robby. Saya carikan jalan yang tidak terlampau ramai dengan kendaraan yang menyeramkan. Tapi Tuhan berkata lain, kata-kata Robby terpaksa menjadi kenyataan.
Hingga kini saya masih tidak tahu siapa yang bersalah, Robby, atau ibu-ibu pengendara motor itu. Saya hanya dapat terus mengucap syukur bahwa kali itu kami selamat. Hanya satu yang tidak selamat, spion Robby.
Jumat, 11 Oktober 2013
Bicara pada Semut
Ketika ada seekor semut melintasi tangan atau kaki, tentulah geli. Saya suka konyol kalau ada satu ekor semut di tubuh saya. Kalau banyak sih, tidak apa-apa, tapi kalau cuma satu, mau bunuh dosa ek.
Ketika semut tersebut telah menjauhi tubuh saya, tiba-tiba saya berangan-angan bisa berbicara dengan dia.
Saya : Ssst.. mut mut..
Semut: Apa?
Saya : Ngapain kamu jalan sendirian?
Semut: Lah, emang enggak boleh?
Saya : Ya boleh sih, tapi apa enggak takut?
Semut: Ngapain sih takut, takut sama apa?
Saya : Ya kalau kamu terinjak atau gimana gitu tiba-tiba dibunuh.. kan ngeri
Semut: Pada hakikatnya kan kita memang ditakdirkan untuk sendirian, gimana sih kamu? kalau memang tiba-tiba aku terinjak dan mati, ya sudah takdir, namanya juga makhluk kecil.
Saya : Ooh, begitu ya mut, ya sudah, lanjutkan perjalananmu ya, hati-hati.
Semut: Ya
Kalau saja percakapan itu benar-benar terjadi, sayangnya itu semua hanya karangan saya. Saya sendiri masih bertanya-tanya, kapan dan mengapa semut berjalan sendirian, serta ke mana tujuannya. Kalau mereka berkumpul kan, berarti sedang ada sumber makanan, tapi kalau sedang sendirian? apakah dia pergi menemui pacarnya? atau pergi rapat? atau bertemu teman lama? seberapa jauh dia harus berjalan? dari mana dia dapat energi sebanyak itu untuk berjalan sejauh itu?
Manusia bukan semut, dan semut juga bukan manusia. Tapi Tuhan sengaja menciptakan keduanya. Mengapa? Saya yakin semua orang sudah tahu jawabannya.
Kamis, 15 Agustus 2013
Disanjung
Sudah, sudah cukup. Cukup sanjungan-sanjungannya. Jangan terlalu lama dibicarakan terus, nanti keberuntungan negara kita hilang lho.
Langganan:
Postingan (Atom)
