Bapak dan Ibu saya dua-duanya tidak berasal dari desa yang permai. Bapak saya asli Semarang, kota atlas tepatnya di kampung sekayu - satu kampung dengan NH Dini - sedangkan ibu saya asli Salatiga, tepatnya dari kalioso kidul. Jika saya berkunjung ke rumah teman saya di desa, saya merasa sangat senang dan ingin sekali tinggal di desa, namun apa boleh buat, saya lahir dan besar di kota kecil ini, disyukuri saja.
Di kota, kampung-kampung kecil semakin terancam. Seperti halnya kampung sekayu yang awalnya luas, semakin hari semakin terdesak karena banyaknya tower-tower yang dibangung untuk hotel, kondominium, mall, dan semacamnya. Di daerah Plampitan Semarang, juga sama saja. Kini dari jarak pandang kurang dari 100 meter sudah dapat kita temui bangunan apartemen. Itu baru dua daerah di Semarang, sisanya masih banyak lagi yang saya tidak ketahui nama daerahnya.
Fenomena semacam itu saya kira hanya akan terjadi di Semarang, di kota-kota besar, namun rupanya di kampung saya tinggal saat ini - Kalioso - bangunan besar juga mungkin dibangun. Kata bapak saya, di Jalan Senjoyo saat ini sedang dibangun sebuah bangunan besar yang akan dipergunakan sebagai mall. Bahkan rencananya, seberang rumah saya nanti lama-lama jadi bagian belakang dari mall tersebut. Ah, bagaimana rasanya bertetangga dengan mall?
Dengan alasan kesumpekan, tentu tinggal di desa yang permai lebih menyenangkan. Tetapi hal itu bisa tiba-tiba berubah menyebalkan apabila tiba-tiba daerah yang kita tinggali terkena 'jatah' jalan tol, jalan lingkar, dan jalan-jalan yang lain. Terdesak lagi, terdesak lagi. Akhirnya orang desa pindah ke kota, padahal di kota sudah sumpek, pol.
Mau ke mana kita? Rumah Dora.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar