Sabtu, 15 Februari 2014

Di Bawah Peci

Minggu siang yang mendung ini saya sendiri di rumah bapak saya di daerah Tegalrejo. Lingkungan ini merupakan lingkungan yang baru untuk saya. Lingkungan yang cukup terbuka, untuk para tetangga, untuk para pedagang, untuk para pengamen, untuk para peminta-minta, bahkan untuk para maling. 

Saya belum tahu berapa banyak orang bisa masuk-keluar di wilayah perumahan ini. Yang dapat saya simpulkan hanyalah lingkungan ini lebih ramai dibanding rumah tinggal saya di daerah Kalioso, di pusat kota. 

Siang ini saya menjumpai seorang kakek berpeci, berbaju koko mendatangi rumah kami. Awalnya saya kira bapak ini adalah takmir masjid. Ketika saya tanya ada keperluan apa, saya dengar bapak ini meminta saya untuk berbagi rezeki dengannya.

Di bawah pecimu pak, entahlah saya tidak tahu apa saja yang ada di bawah sana.  

Kamis, 09 Januari 2014

Saya Bilang Mereka Kontraktor

Jika suatu benteng retak, bagian yang retak mungkin bisa ditambal. Jika retak lagi di bagian lain, menambal lagi bukanlah suatu masalah hingga retakan-retakan yang lain muncul dan wajah benteng itu menjadi tertambal sulam di sini situ. Tidak apalah asal masih kokoh berdiri. Namun apabila benteng yang sudah ditambal sulam itu pada akhirnya roboh juga, melakukan renovasi kecil-kecilan mungkin akan sia-sia. Rubuhkan saja dahulu, kemudian bangun kembali. 

Jika benteng itu mental saya, mungkin akan lebih mudah karena saya sendiri lah yang harus menambal sulam atau memugar total sendiri. Tetapi jka benteng itu adalah negara kita? Semua orang tahu bobroknya negara ini dari sistem demokrasi yang kini sedang airing. Benteng itu tentu perlu dipugar total. Kepala kontraktor yang kemarin habis menambal sulam benteng itu kini hampir pensiun. Harus ada kepala kontraktor baru yang menggantikannya. Tapi siapa? 

Tidak sedikit perusahaan kontraktor di negeri ini. Kualitas perusahaan itu pun bermacam-macam. Ada yang mungkin baik, ada yang kurang baik, ada yang belum berpengalaman, ada pula yang telah berpengalaman melakukan kecurangan. Para kepala kontraktor harus bersaing mati-matian untuk memenangkan tender pemugaran benteng kita. Saya sebenarnya malas mengikuti lelang tender tersebut, saya bahkan berharap saya terus menjadi 16 tahun. Tetapi apa boleh buat, undangan mengikuti lelang sudah ada di genggaman, dan memenuhinya merupakan sebuah kewajiban. 

Siapapun pemenang tender itu nanti, entah dia yang punya televisi, punya band dangdut, poligami, punya senjata warisan, punya reputasi menjanjikan, saya doakan sukses mengepalai pemugaran benteng kita semua.

Jumat, 20 Desember 2013

Sabtu, 14 Desember 2013

Tahu Asin

Kita pasti punya banyak alasan untuk tidak membeli tahu asin yang dijajakan pedagang asongan di pom bensin ataupun bus bumel. Mungkin karena kita memang tidak suka tahu asin, mungkin karena tidak punya uang, mungkin juga kita berasumsi tahu asinnya sudah tidak enak lagi. Tetapi para pedagang itu tetap saja menjajakkan dagangan  mereka, mengharapkan rupiah demi rupiah dari pembeli yang tidak tentu. Apakah mereka tidak punya pilihan pekerjaan lain?

Tentu mereka memiliki banyak pilihan. Menjadi guru, politisi, ulama, pemimpin, astronot, pencari fakta, atau apapun itu. Tetapi dari sekian banyak pilihan, jalan hidup mereka bermuara pada tahu asin, sebuah makanan rakyat kecil yang memohon untuk dijajakan.

Nasib yang lebih baik berpihak pada kerabat si tahu asin, tahu bakso. tahu berisi daging giling yang di-bakso-kan ini memiliki daya jual yang lebih tinggi dan rasa yang lebih beragam. para penjual tahu bakso pun lebih bervariasi, dari mengantar tahu ke warung-warung mi ayam hingga memiliki brand dan outlet sendiri. Bukan tahu bakso yang menentukan nasibnya, tetapi pembuat dan penjualnya yang menentukan pilihan.

Penjual tahu bakso barang  tentu sudah memikirkan matang-matang usaha yang akan mereka lakukan menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Dengan persiapan yang matang, usaha tahu bakso pun sukses, jauh dari usaha tahu asin yang berkelas bus ekonomi.

Tidak ada seorang pun yang bercita-cita mendapat penolakan dari orang-orang di bus begitu sering seperti yang dialami para pedagang tahu asin. Jika dibandingkan dengan usaha tahu bakso, tentu usaha tahu asin hanya sekecil debu di pelupuk mata dan terkesan 'kurang berusaha' (Kita tahu bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka).

Akan tetapi, debu bukanlah struktur terkecil di muka bumi ini bukan? Mereka-mereka yang hanya bermodal tampang memelas (tetapi badan bugar) dan mangkuk plastik lah struktur yang lebih kecil dan ringan. Tuhan tentu tidak akan mengubah nasib mereka sebelum mereka menutup mangkuk plastik itu. 

Jumat, 01 November 2013

Spion Robby

"Tenanglah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayo berangkat!"
Berangkatlah kami, memenuhi undangan itu.

Hal yang buruk yang kadang terlintas, terpikir, terbayang, memang tidak harus diutarakan. Karena bila pun kejadian buruk itu terjadi, tahu atau tidak tahu kita sebelumnya, tentulah akan terjadi. 

Tetapi, jika kita mengetahui lebih awal, tentu kita akan dapat mengantisipasi, bukan?

Ya. Segera setelah saya mendengar kata-kata Robby kala itu, saya juga sudah mencoba mengantisipasinya. Sepanjang jalan saya juga terus berdoa agar diberi kelancaran dalam perjalanan menuju tempat tujuan bersama Robby. Saya carikan jalan yang tidak terlampau ramai dengan kendaraan yang menyeramkan. Tapi Tuhan berkata lain, kata-kata Robby terpaksa menjadi kenyataan. 

Hingga kini saya masih tidak tahu siapa yang bersalah, Robby, atau ibu-ibu pengendara motor itu. Saya hanya dapat terus mengucap syukur bahwa kali itu kami selamat. Hanya satu yang tidak selamat, spion Robby.