Senin, 26 Maret 2012

I know now I have been disappointed by myself, even it's twice more painful. First, I've made such a wrong choice. Second, I didn't even use my chance appropiately just because I hesitated of something that wasn't certainly happened. Now I wish to have another chance just to make them better, but wish is just a wish. This is the role I'm playing, what I have started have to be completed though it's not always good for me. 
I promise to discover myself, someday - after finishing this role - and I may not make mistakes, anymore. 

Jumat, 23 Maret 2012

Mejanya Nakal

Suatu ketika guru matematika gue bilang
"Banyak orangtua yang sudah salah mendidik anaknya.."


contoh konkritnya seperti ini:
Ketika si orangtua punya balita imut-imut yang lagi belajar jalan, kesalahan ini sering kali dilakukan. Si anak yang masih nggak berdosa ini jalan eh nggak taunya nabrak meja di depannya yang lebih gede dari badan si anak. Reaksi si anak biasanya menangis, atau teriak sambil menangis memanggil ibunya (sama aja ya). habis itu si orangtua mendekat dan mengelus-elus badan anaknya yang ketatap meja, seraya berkata,

"Wah mejanya nakal yah, (mukul meja) tuh, udah dipukul sama ibu, nggak papa ya..

Si anak kontan gembira atau tangisnya mereda. Masalah tabrak menabrak meja selesai, tapi masalah karakter anak di masa depannya, belum selesai. 

Sekarang begini, dari kasus tersebut memang si Ibu mengajari anaknya untuk tidak mudah menyerah dalam belajar berjalan. namun di sisi lain, justru kata-kata "menyalahkan meja" menjadi bumerang bagi masa depan anak. Meja, hanya sekedar benda mati berjenis kelamin laki-laki yang nggak bisa berjalan apalagi nabrak orang. Meja memang punya kaki, tapi meja tanpa gaya nggak mungkin tiba-tiba menabrak si bocah tadi kan?

Harusnya si Ibu menanamkan kepada anaknya bagaimana cara belajar berjalan yang benar dan menghindari meja, bukan menyalahkan mejanya yang nakal. Mana mungkin meja bisa nakal? sekarang kalau saja meja bisa bicara, dia pasti sudah marah-marah ditabraki si balita yang berjalannya masih membabi buta. Jadi, jika dipandang dari sudut si meja, yang salah jelas si balita seenaknya menabrak dia. 

Jika kultur "Menyalahkan meja" terus dilakukan para ibu, karakter buruk dari si anak nggak mungkin terelakkan. karakter si anak akan terbentuk menjadi orang yang suka menyalahkan orang lain, tanpa introspeksi diri bahwa mungkin dirinya sendirilah yang bersalah. Itulah mengapa banyak kasus di Indonesia yang nggak rampung-rampung, ketika si tersangka diminta bersaksi, kebanyakan dari mereka mengelak dan melakukan pembelaan mati-matian. Yang lebih parah lagi, ada ada saja orang yang tidak terima dirinya kalah di pemilu kemudian menuntut rivalnya yang menang. Hah, andai saja para politikus Indonesia seperti Ramos Horta yang dengan besar hati menerima kekalahannya. Mungkin sewaktu kecil, ibunya tidak pernah mengajarkan kultur "Menyalahkan Meja", mungkin. 

Jumat, 16 Maret 2012

Musuh



Ada yang mengatakan bila musuh dapat membuat mereka lebih kuat. 
Sedangkan di olahraga beladiri Wushu, disebutkan bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. 

"Jadi, ketika ada orang yang berpendapat bahwa diri mereka kuat, 
maka mereka sedang menjadi musuh terbesar diri mereka sendiri." 

Gue = Sepuntung Rokok

Suatu sore gue mau berangkat les musik, naik angkot. gue hampir sampai di bibir gang, ada angkot nomor 6 melintas ke utara. Tapi berhubung gue nggak mau ke utara, ya gue biarin aja tu angkot lewat. setelah gue sampai di bibir gang, eh ternyata si angkot nungguin dari kejauhan (dan udah kebablasan banget). Gue diemin aja lah tu angkot, orang niat gue juga mau nyebrang. 

Setelah gue nyebrang si angkot berlalu. Gue pun memulai menunggu angkot nomor 5 atau 6 menuju ABC. Nggak berapa lama, ada angkot nomer 6 agak ngebut ke arah selatan, ya gue stop aja, mumpung cepet ada angkot. Gue masuk, eh kosong, blong. Sewaktu gue duduk, gue ngerasa ada yang aneh dan nggak asing sama ini angkot. Beberapa detik kemudian gue sadar, ini adalah angkot yang melintas ke utara dan nungguin gue tadi. Jadi si sopir muter terus bela-belain ambil gue gitu? 

Iya. emang bener, tu angkot kosong banget soalnya. sempet berpikir yang aneh-aneh sih, tapi peduli setan. gue pun berpikiran positif bahwa memang si bapak sopir bekerja begitu keras mengejar setoran menghidupi anak istri. Gue pun berencana mengeluarkan uang 2000 rupiah, padahal biasanya gue cuma bayar 1000 meskipun pake baju bebas. 

Si sopir akhirnya nanya gue mau turun mana. gue bilang ABC (kenapa gue bilangnya ABC?). terus si sopir bilang kalo mau nurunin gue di halte. Gue ngangguk aja toh tempat lesnya deket dari halte. Sampe di halte gue turun dan menyerahkan 2000 rupiah gue. Guess what happened?

"Mbak rokok e siji!" teriak si sopir dari belakang kemudi ke ibu-ibu penjual rokok di halte. 

Uang 2000 udah gue kasihin, terus gue langsung jalan ke tempat les.Gue berjalan kayak orang bingung, dan emang gue saat itu bingung. bagaimana bisa, si sopir melakukan hal itu? Gue ngerasa nyesel udah ngasih 2000 ke bapak tadi. Asumsi positif yang gue kasih tentang bapak tadi lenyap seketika. Baru kali ini gue merasa bodoh, dan gue sadar bahwa gue dikejar-kejar sopir angkot yang mengejar 2000 rupiah gue untuk sepuntung rokok.