Minggu, 07 September 2014

Cerita Seperti Ini

Dulu saya tidak pernah membayangkan akan mengetahui cerita seperti ini. Cerita wanita-wanita kuat pejuang keluarganya. Dulu saya tidak mengerti bagaimana rasanya hidup berbeda, berdampingan. Saya awalnya tidak mengerti mengapa harus seorang wanita hidup dengan jalan yang tidak pernah bisa saya bayangkan sebelumnya dan berusaha sekuat tenaga untuk berbahagia.

Ternyata hidup saya selama 18 tahun belakangan ini biasa-biasa saja. Tinggal dengan orangtua, kakak, tetangga, teman. Sekolah di sekolah negeri, pulang menaiki kendaraan umum, bertemu teman baru, berpisah dengan teman lama, mengerjakan tugas sekolah, remidi, gagal SNMPTN, dan seterusnya dan seterusnya. Semua itu biasa saja.

Sebelumnya saya belum pernah tahu bagaimana hidup orang yang terkena PHK, tidak pernah tahu hidup balita yang jauh dari mamanya, tidak pernah tahu bagaimana hidup anak kembar, tidak pernah tahu bagaimana rasanya keluar, kemudian kembali lagi.

 Ya, keluar, kemudian kembali lagi.

Rabu, 28 Mei 2014

Für Immer Jung

So many adventures couldn't happen today
So many songs we forgot to play
So many dreams swinging out of the blue
We let them come true

Forever Young - Alphaville (1984)

Rabu, 30 April 2014

Kampung Tanpa Halaman

Bapak dan Ibu saya dua-duanya tidak berasal dari desa yang permai. Bapak saya asli Semarang, kota atlas tepatnya di kampung sekayu - satu kampung dengan NH Dini - sedangkan ibu saya asli Salatiga, tepatnya dari kalioso kidul. Jika saya berkunjung ke rumah teman saya di desa, saya merasa sangat senang dan ingin sekali tinggal di desa, namun apa boleh buat, saya lahir dan besar di kota kecil ini, disyukuri saja. 

Di kota, kampung-kampung kecil semakin terancam. Seperti halnya kampung sekayu yang awalnya luas, semakin hari semakin terdesak karena banyaknya tower-tower yang dibangung untuk hotel, kondominium, mall, dan semacamnya. Di daerah Plampitan Semarang, juga sama saja. Kini dari jarak pandang kurang dari 100 meter sudah dapat kita temui bangunan apartemen. Itu baru dua daerah di Semarang, sisanya masih banyak lagi yang saya tidak ketahui nama daerahnya. 

Fenomena semacam itu saya kira hanya akan terjadi di Semarang, di kota-kota besar, namun rupanya di kampung saya tinggal saat ini - Kalioso - bangunan besar juga mungkin dibangun. Kata bapak saya, di Jalan Senjoyo saat ini sedang dibangun sebuah bangunan besar yang akan dipergunakan sebagai mall. Bahkan rencananya, seberang rumah saya nanti lama-lama jadi bagian belakang dari mall tersebut. Ah, bagaimana rasanya bertetangga dengan mall? 

Dengan alasan kesumpekan, tentu tinggal di desa yang permai lebih menyenangkan. Tetapi hal itu bisa tiba-tiba berubah menyebalkan apabila tiba-tiba daerah yang kita tinggali terkena 'jatah' jalan tol, jalan lingkar, dan jalan-jalan yang lain. Terdesak lagi, terdesak lagi. Akhirnya orang desa pindah ke kota, padahal di kota sudah sumpek, pol

Mau ke mana kita? Rumah Dora. 

Kamis, 17 April 2014

Untung Aku Melu(melu)

Dalam beberapa tahun terakhir, Korea sukses dengan bisnis besar mereka - KPOP, Korean Dramas, dan segala macam TV shows yang mereka buat. Masyarakat Indonesia tidak luput dari sasaran gebrakan dunia bisnis entertainment macam ini, dan beberapa orang masyarakat Indonesia menganggap bahwa dunia hiburan semacam itu (saya tekankan lagi, benar-benar macam itu) merupakan ladang peruntungan. Hadirlah boyband-girlband ala Indonesia, yang katanya, terinspirasi boyband-girlband Korea. 

Lain dunia hiburan, lain lagi tren dunia pendidikan. Sepuluh tahun yang lalu mungkin siswa-siswi SMA masih belajar pada kelompok belajar mereka masing-masing, atau beberapa dari mereka juga ada yang mengikuti les privat. Kini, kelompok belajar dan tutor sebaya sudah tidak ngetren lagi, men. Fenomena semacam itu memang benar adanya sebab saya sendiri yang mengalami, dan wali kelas saya, beberapa waktu yang lalu mengeluhkan keadaan ini. Beberapa minggu sebelum UN suasana KBM memang biasanya hanya diisi tanya jawab antara siswa dan guru, namun beliau sangat prihatin sebab nampaknya para siswa sudah tidak begitu memperhatikan keberadaan guru di kelas. Dari mata beliau, para siswa lebih suka belajar di bimbel daripada di kelas, di sekolah. 

Fenomena tersebut muncul lantaran tidak hanya satu-dua siswa yang ikut bimbel, tetapi hampir separuh anggota kelas, dan sayang sekali guru-guru melakukan over-generalisasi atas sikap para siswa. Padahal, tidak semua siswa ikut(ikut) belajar di bimbel. Ya, kini banyak sekali peserta didik yang mengikuti bimbel (khususnya di sekolah saya) dan pertumbuhan pengikut bimbel akhir-akhir ini menunjukkan kenaikan seperti deret ukur. Satu orang ikut bimbel, orang yang lain lihat dia bisa mengerjakan soal, orang itu ikut bimbel. Beberapa anak lain melihat dua orang anak pakai cara-cara cepat dan mereka tertarik, beberapa anak ikut bimbel, dan seterusnya dan seterusnya. Mungkin beberapa dari mereka sebenarnya tidak begitu membutuhkan bimbel (karena kita tahu, di bimbel enam mapel UN dipelajari semua, tetapi saya berani bertaruh pasti banyak yang sering bolos saat kelas bahasa Indonesia) tetapi karena banyak teman yang ikut, akhirnya ikut juga lah, biar merasa 'aman' sewaktu mengerjakan UN. (No offense, for sure.)

Membahas mengenai tren, pasti Jokowi merupakan salah satu pembicaraan yang tidak habis dibicarakan semua lapisan masyarakat. Lha wong ada namanya di soal UN saja dipermasalahkan kok, katanya nanti ada pihak yang diuntungkan, lalu pihak lain tidak mau pihak tersebut untung - itu kan bisa-bisanya saja mereka yang buat berita. Yang penting sebenarnya bukanlah menyelesaikan masalah ada Jokowi di bacaan UN, tetapi bagaimana kunci-kunci UN masih banyak beredar, dan bahkan model soal UN yang katanya dirahasiakan bisa diketahui beberapa siswa secara legal (Saya tidak bohong, mereka mengetahui jenis soal tersebut - dapat saya kategorikan - secara legal, sah, tidak jual beli soal). 

Kembali lagi ke Jokowi tadi, pasti kita sudah banyak melihat orang-orang yang mirip Jokowi diundang ke acara TV (yang katanya program lawak tetapi tidak bermutu sama sekali karena diisi orang-orang alay menari-nari). Tetapi bukan di situ titik ikut-ikutan yang krusial. Ikut-ikut Jokowi lewat 'karisma' itu yang menyebalkan. Banyak yang ikut-ikut gaya Jokowi blusukan, berpakaian, dan lain-lain. Apa se-tidak kreatif itu para politikus di Indonesia? Jokowi memang mungkin patut diteladani, tetapi kalau mau menang, apa harus ikut-ikut pak Jokowi persis? Apa tidak punya jati diri, visi, dan gebrakan sendiri? 

Demikianlah mental masyarakat Indonesia, yang masih hidup dalam kondisi yang belum mapan dan masih meraba-raba masa depan, serta bertumpu pada keberuntungan. Hanya untung-rugi yang dipertaruhkan, bukan perjuangan. Proses juga tidak pernah dipertimbangkan, yang penting hasil akhir, yang penting perut kenyang, yang penting nilai UN memuaskan. 

Sabtu, 15 Februari 2014

Mengenal Tum

Kenalilah Tum.
Gadis yang sedang tumbuh dewasa dengan mimpi, ambisi, pilihan hidup dan rasa laparnya. 

Delapan belas tahun usianya. Dia sudah punya KTP setahun terakhir, meskipun saya tidak pernah melihat isi dompetnya. Saya sudah mengenal Tum, paling tidak 11 tahun terakhir. Kami tumbuh bersama, dalam waktu yang sama, maksud saya. 

Biar saya ceritakan Tum masa kecil. 
Dia adalah gadis kecil yang pemberani, pintar, dan ramah. Tidak seperti saya yang galak, dia selalu ramah kepada siapapun dengan senyum khasnya. Benar-benar anak idaman tiap orang tua. Bagaimana tidak, semester pertama dia langsung menjadi juara kelas. Selama dua tahun pertama di sekolah dasar, Tum adalah primadona. 

Dulu saya pikir Tum lebih pintar dari saya karena dia lebih tua dari saya. Tetapi bukan. Di tahun ketiga, Tum kehilangan sorot lampu utama, dan saat itulah pancaran intelegensi Tum mulai menurun. 

Semasa sekolah dasar, Tum telah melalui banyak perubahan, kecuali satu, badannya. Tum juga tidak pernah malu dengan badannya. Tum adalah gadis yang penuh percaya diri, apapun yang dia kerjakan, dia lakukan dengan percaya diri. Bahkan dalam cela pun Tum tetap melakukannya dengan percaya diri. 

Tum punya otak yang luar biasa, berbeda dengan otak saya dan teman-teman yang lain. Tum punya pemikiran super imajinatif dan visioner. Pola pikirnya mungkin jika dipetakan akan seluas langit di angkasa. Pola pikir itulah yang juga tidak pernah berubah hingga kini. Pola pikir yang tidak pernah sanggup saya raih dengan akal sehat saya. 

Tum melewati banyak hal di masa kecil-remajanya. Akan saya ceritakan lain kali. 


Di Bawah Peci

Minggu siang yang mendung ini saya sendiri di rumah bapak saya di daerah Tegalrejo. Lingkungan ini merupakan lingkungan yang baru untuk saya. Lingkungan yang cukup terbuka, untuk para tetangga, untuk para pedagang, untuk para pengamen, untuk para peminta-minta, bahkan untuk para maling. 

Saya belum tahu berapa banyak orang bisa masuk-keluar di wilayah perumahan ini. Yang dapat saya simpulkan hanyalah lingkungan ini lebih ramai dibanding rumah tinggal saya di daerah Kalioso, di pusat kota. 

Siang ini saya menjumpai seorang kakek berpeci, berbaju koko mendatangi rumah kami. Awalnya saya kira bapak ini adalah takmir masjid. Ketika saya tanya ada keperluan apa, saya dengar bapak ini meminta saya untuk berbagi rezeki dengannya.

Di bawah pecimu pak, entahlah saya tidak tahu apa saja yang ada di bawah sana.  

Kamis, 09 Januari 2014

Saya Bilang Mereka Kontraktor

Jika suatu benteng retak, bagian yang retak mungkin bisa ditambal. Jika retak lagi di bagian lain, menambal lagi bukanlah suatu masalah hingga retakan-retakan yang lain muncul dan wajah benteng itu menjadi tertambal sulam di sini situ. Tidak apalah asal masih kokoh berdiri. Namun apabila benteng yang sudah ditambal sulam itu pada akhirnya roboh juga, melakukan renovasi kecil-kecilan mungkin akan sia-sia. Rubuhkan saja dahulu, kemudian bangun kembali. 

Jika benteng itu mental saya, mungkin akan lebih mudah karena saya sendiri lah yang harus menambal sulam atau memugar total sendiri. Tetapi jka benteng itu adalah negara kita? Semua orang tahu bobroknya negara ini dari sistem demokrasi yang kini sedang airing. Benteng itu tentu perlu dipugar total. Kepala kontraktor yang kemarin habis menambal sulam benteng itu kini hampir pensiun. Harus ada kepala kontraktor baru yang menggantikannya. Tapi siapa? 

Tidak sedikit perusahaan kontraktor di negeri ini. Kualitas perusahaan itu pun bermacam-macam. Ada yang mungkin baik, ada yang kurang baik, ada yang belum berpengalaman, ada pula yang telah berpengalaman melakukan kecurangan. Para kepala kontraktor harus bersaing mati-matian untuk memenangkan tender pemugaran benteng kita. Saya sebenarnya malas mengikuti lelang tender tersebut, saya bahkan berharap saya terus menjadi 16 tahun. Tetapi apa boleh buat, undangan mengikuti lelang sudah ada di genggaman, dan memenuhinya merupakan sebuah kewajiban. 

Siapapun pemenang tender itu nanti, entah dia yang punya televisi, punya band dangdut, poligami, punya senjata warisan, punya reputasi menjanjikan, saya doakan sukses mengepalai pemugaran benteng kita semua.