Jumat, 30 November 2012

Maaf, Mawar

Hello Mawar! 
Apa kabar? 

Gue mungkin selama ini sudah menjadi teman yang belum cukup baik, belum cukup pengertian, kurang responsif, pasif, nggak peka, dan sebagainya. 

Mawar memang nggak begitu jauh dengan gue secara fisik, tapi apa-apa yang ada di benak dia, keluh kesah dia, nggak semua gue tahu, dan gue bantu. 

Suatu malam, Mawar sms gue, dan sayangnya gue sedang enggak begitu memperhatikan handphone gue yang memang biasanya sepi kalau malam. Sebuah emoticon sedih terkirim dari Mawar, gue balas dengan sebuah pertanyaan "Mengapa?" jam 10 malam, tidak ada balasan. 

Esoknya, dia bilang ada kejadian menarik semalam, dan gue sudah melewatinya. Sewaktu gue tanya lagi kejadian apa, dia menolak memberi tahu. Alasannya, dia takut menangis, lagi. 

Sedang ada yang tidak beres dengan Mawar, bahkan seseorang berani-beraninya membuat Mawar menangis. Gue memang enggak tahu siapa, tapi gue hanya menerka. Dan tentu saja, tidak selalu benar. 

Gue terus bertanya sama Mawar, dia terus mengelak dan tidak ingin membahas lagi. Sudah cukup sakit mungkin hatinya. Gue nggak mau mengoyak lukanya lagi. Semoga nggak ada lagi orang yang menyakiti dia. 

Lewat postingan ini, gue pengen minta maaf sama Mawar. Selama ini, jujur, gue masih sangat berharap Mawar bisa bersatu sama Daun. Status Daun yang single membuat gue pengen melihat Mawar sama Daun bareng-bareng lagi, bahkan beneran berhubungan. Tapi siapa gue? Apa hak gue atur-atur hidup orang? 

Kalau memang orang yang bikin Mawar nangis tempo hari itu Daun, mungkin gue akan perlahan melupakan impian persatuan yang gue dambakan antara Mawar dan Daun. Gue bakal selalu mendukung apapun yang lo pilih, Mawar. Buat Daun, semoga lo selalu sukses, maafin gue juga ya. (Meskipun lo nggak pernah tahu gue minta maaf ke lo lewat postingan ini).

Sabtu, 24 November 2012

Tidak beres

Home alone, it's raining outside.
FYI aja sih.

lama enggak nulis. sok sibuk. sok kebanyakan tugas. sok-sokan banget gue pokoknya.

ini aslinya emang lagi ada yang enggak beres dengan gue, dengan senyum gue yang tiba-tiba hari ini tidak mengembang seperti biasanya, dengan teman gue yang tipis yang enggak mau minjemin hapenya ke gue (nah lo thes) dengan temen gue yang lain yang mungkin lagi jatuh di dua hati, dengan temen gue yang lain lagi yang lagi pergi sama saudaranya yang cerewet dan ngeyelan, dan dengan orang yang lagi diem di sana. ada yang tidak beres dengan kita.

hari ini gue datang ke sekolah, ngerjain tugas HTML, biologi dan mendekor GSG untuk hari guru besok senin. Besok, gue ada rencana bimbingan penelitian (?) asli gue nggak tahu apa acaranya besok, terus dekor GSG lagi. jadi, intinya gue makhluk bernama siswa yang sekolah tujuh hari dalam seminggu.

sebenernya minggu-minggu sebelumnya gue nggak ada masalah dengan sekolah tujuh hari ini, tapi minggu ini, memang benar-benar ada yang tidak beres. banyak yang tidak beres. skala abnormalitas meningkat, sensitifitas juga meningkat. biasa, cewek.

ketidakberesan itu, sesegera mungkin harus gue bereskan. minggu depan, segalanya harus sudah beres.


Sabtu, 27 Oktober 2012

Korban sistem

Kamus besar bahasa Indonesia
sis·tem /sistém/ n 1 perangkat unsur yg secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas: -- pencernaan makanan, pernapasan, dan peredaran darah dl tubuh; -- telekomunikasi; 2 susunan yg teratur dr pandangan, teori, asas, dsb: -- pemerintahan negara (demokrasi, totaliter, parlementer, dsb); 3 metode: -- pendidikan (klasikal, individual, dsb); kita bekerja dng -- yg baik; -- dan pola permainan kesebelasan itu banyak mengalami perubahan; 

Kalau membaca KBBI dan menemukan kata tersebut (sistem) rasanya nggak ada bedanya sama kata-kata yang lain. Kedudukannya sama. 
Tapi, ketika kita membicarakannya dan mempraktekannya, tentu banyak asumsi muncul tentang kata ini. Sebagai siswa, gue menganggap kata 'sistem' ini biasa, nggak ada bedanya dengan kata lain. tapi, ketika orang-orang yang punya kuasa sedang membicarakan 'sistem', tentu bukan hal biasa.

Mereka menyebut 'sistem' seperti kata-kata ajaib. Mengapa ajaib? karena sistem bisa mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. yang tidak bisa menjadi bisa. Sebuah sistem dibuat untuk mempermudah segalanya bukan? 

That's it. jadi, asumsi orang-orang yang punya kuasa terhadap sistem adalah sebuah kendaraan yang bisa mempermudah segalanya. Gue tahu, bahasan ini sangat riskan dibicarakan. Pun gue nggak punya bukti, jadi ini cuma semacam celotehan seorang pecundang. 

Tapi toh pecundang juga punya hak berceloteh kan? Ini negara demokratis bung! ketika gue merasa dirugikan karena sebuah sistem, boleh dong gue teriak? boleh dong gue mengelak? lebih bagus lagi boleh dong gue kasih saran yang bisa membangun? 

Sayangnya mereka (orang-orang yang punya kuasa) nggak mau denger celotehan pecundang. Selama mereka merasa diuntungkan, mengapa harus banyak bergerak? Ya, mereka tidak mau mendengar orang yang merasa dirugikan, karena mereka tidak merasa dirugikan. Dan mereka justru akan merasa dirugikan jika harus mendengarkan celotehan orang-orang yang merasa dirugikan. 


"Mereka rugi karena tidak menguntungkan kami. salah sendiri." 

mungkin seperti itu. 

Tapi tidaklah baik terlalu banyak berkomentar tentang hal semacam ini. hanya orang-orang yang punya kuasa - lah yang punya hak berbicara dan melakukan tindakan. Selebihnya, kita hanya harus mengikuti sistem yang telah mereka desain. 

Sebuah pertanyaan besar mencuat di kepala gue, "Kita, sebagai murid, dituntut untuk bekerja keras, untuk sportif, tapi kenapa, sportifitas yang sudah kita curahkan dinodai oleh sistem semacam itu?" 

Haaaahh, celotehan macam apa ini. Korban akan tetap menjadi korban. 

Selamat sore.

Senin, 15 Oktober 2012

Benteng

Senin yang berat saudara. Sebelum hari ini gue sudah siap-siap mental menghadapi senin yang penuh dengan ujian berat. Bukan karena setumpuk ulangan atau tugas, melainkan sesuatu yang gue sebut ujian mental. 

Gue seperti pion, yang sudah memilih maju, dan enggak bisa mundur lagi. Gue memang sudah berniat menjadi pion, dan nggak mau tergoyahkan lagi. Pun, kalo ketika gue sedang berusaha menjadi pion yang baik tapi ternyata udah dimakan lawan di tengah jalan, gue bakal terima resikonya. seperti hari ini. Hari yang penuh dengan resiko. 

Gue belajar banyak hal hari ini. Menjadi orang lebih baik dari sebelumnya itu memang sulit, tapi melewati fase itu merupakan suatu pengalaman yang spektakuler. Gue bener-bener merasakannya hari ini. Hari di mana gue harus membangun benteng sekokoh mungkin sebelum gue berangkat, dan harus berperang melawan mereka yang ingin menghancurkan benteng yang udah gue buat. meskipun enggak 100% berhasil, tapi gue rasa benteng yang gue buat sudah cukup membantu. Sekali lagi, membuat benteng itu sendiri enggak mudah, apalagi mempertahankan kekokohannya. Menjadi orang hebat yang berhasil menjaga kekokohan sebuah benteng itu susah, tapi gue akan mencoba. Sekali lagi, buat gue, benteng itu bukan tempat untuk bersembunyi, tapi buat bertahan, dan mengatur strategi.