Senin, 25 Juni 2012

Sholat Khusyu' itu Mudah

One day, gue nggak sengaja lagi cari-cari buku di rak, dan fancy finding this book 


Jujur, pertama kali lihat judul bukunya, gue langsung tertohok, since gue merasa selama ini ibadah gue kurang khusyu'. menurut buku itu, modal sholat khusyu' cuma ada 5 :

1. Jadikan sholat sebagai kebutuhan utama dari jiwa.
2. Pelajari dan pahami kembali ilmu sholat.
3. Siapkan waktu khusus dan cukup untuk mengerjakan sholat.
4. Lakukan sholat dengan penuh ketenangan dan kesungguhan.
5. Berhentilah mengerjakan dosa dan maksiat.


Dalam kenyataannya, di beberapa sholat gue seperti ini : 

Allahu Akbar. (Aduh, mukenanya bau). Allahu Akbar (Lhoh, kok mukenanya merosot-merosot gini sih). Samiallahuliman hamidah. Allahu Akbar (Aduh, kebanteren sujude). Allahu Akbar. Allahu Akbar (Eh, iki mau rakaat kepiro) dst, dst.. 

See.. teori itu mudah, dalam kenyataannya, ketika kita sholat di tempat umum, saat banyak gangguan, banyak hal yang harus dikerjakan, sholat khusyu' itu susah. Tapi, walau bagaimanapun juga keadaannya, kita tetap harus beribadah se-khusyu' mungkin. Masalah diterima atau tidak, bukan kuasa kita.

Sabtu, 19 Mei 2012

Tak usahlah kau banyak bilang Rasisme

"Pemicu utama konflik sebenarnya ketidakadilan, bukan SARA"
Jusuf Kalla
                                                      

Kamis, 17 Mei 2012

Day-off

Nggak ada yang bisa menyangkal tugasnya anak sekolah itu uncountable. Bikin stress, pusing ngatur waktu, capek dan lain-lain. Begitu pun salah seorang temen sekolah gue yang merasa these days jadwal belajar - sekolah - ngerjain tugas - ekskul dan kesemuanya amburadul, berantakan, nggak keruan. 

Hingga pada suatu hari, ia membuat suatu keputusan - yang menurut gue itu keputusan besar - untuk melakukan "Day-off". Day off ini dijalankannya dengan stay at home pada weekdays demi merampungkan semua tugas-tugas yang numpuk dan belajar penuh buat pelajaran esok hari. 

Awalnya gue bengong dengan apa yang dia katakan sewaktu gue ketemu di sekolah. dia awalnya nggak begitu terbuka dengan apa yang dia lakukan di rumah tapi setelah gue tahu, gue justru salut sama dia, yang berani mengambil keputusan dan melakukan tindakan nyata. 

Buat pelajar seperti gue dan teman-teman gue libur sehari memang suatu anugerah. Bagi mereka yang kerajinan, pasti sehari itu buat nyelesain tugas-tugas, tapi buat yang rada males, yah paling buat main keluar sekalian refresh mind yang udah suntuk sama belasan pelajaran per minggu. 

Gue sendiri belum pernah melakukan Day-off untuk menyelesaikan tugas-tugas gue yang berantakan. Gue tetep berangkat meskipun PR belum kelar, belum belajar buat ulangan and so forth. Gue nggak punya cukup keberanian untuk memutuskan nggak sekolah sehari demi ngerjain tugas yang bejibun meskipun gue butuh. Ya, gue terlalu memaksa - whatever will be, I'll be there

Tapi mungkin, bagi yang bener-bener stress managing time, Day-off ini bisa menjadi salah satu alternatif ketika di tengah perjalanan banyak komponen yang rusak dan harus diperbaiki. Kita harus berhenti, agar di perjalanan selanjutnya komponen-komponen bekerja secara prima dan kerusakan nggak merambah ke mana-mana. Meskipun sopir terus jalan, tapi nggak ada salahnya buat berhenti sebentar, memperbaiki dan melaju pesat ke depan. 

Rabu, 18 April 2012

It's hung, It's branded, It's expensive

Banyak yang berpendapat bahwa sifat-sifat suatu barang  berbanding lurus satu sama lainnya. Seperti halnya harga yang mahal, diikuti Merk yang terkenal, dan kualitas yang baik. Namun, statement tersebut tentu tidak konstan dan bisa dipatahkan. 

Suatu hari gue pergi ke (sebut saja mall) di salatiga sama ibu. kami memang berencana beli sesuatu. Pertama gue memilih sesuatu itu berdasarkan merk, dan memang benar branded stuff need to be paid more, tapi gue nggak ragu karena kualitas untuk sesuatu itu memang jauh lebih baik daripada gue beli sesuatu yang nggak bermerk. 

Selanjutnya gue mencari-cari sesuatu yang lain di bagian yang enggak hung. Awalnya tentu setiap orang berpikir yang enggak hung itu pasti enggak bermerk dan harganya lebih miring. Awalnya gue lihat, ya memang harganya agak miring, tapi entah kenapa gue ragu untuk ngambil sesuatu yang enggak  hung itu, dan mbak-mbak nya juga nyaranin gue ambil yang branded, yang hung

Sampailah gue didepan barang-barang yang hung, dan gue pun disamperi lagi sama mbak-mbak yang menjelaskan ini itu dan pada akhirnya dia bilang,

"Ini diskon 50%.."

Setelah gue itung-itung jatuhnya hung stuff itu jadi 2x lebih murah daripada barang yang enggak hung. akhirnya gue ambil deh barang hung itu tadi. 

Gue awalnya bertanya-tanya kenapa harganya bisa aneh kayak gini? Pada dasarnya gue memang orang yang nggak suka belanja,  jadi kalo urusan barang dan harga, gue sedikit enggak mengerti, bahkan diskon atau pun enggak, sebenernya gue enggak begitu peduli, tetep aja bakal gue ambil hung stuff itu, karena gue sebenernya menganut paham "Harga, Merk, dan Kualitas yang berbanding lurus".

Sabtu, 31 Maret 2012

Ranting, dan mimpinya (Obsesi)

Jadi begini, setiap orang pasti punya panutan dalam meraih cita-cita, termasuk gue juga. Seseorang telah sukses menginspirasi gue biar gue bisa rajin belajar, meraih apa yang dia raih dan sebagainya. Tapi gue juga tau bates kemampuan diri gue sendiri, mana kira-kira kelebihan gue daripada dia, dan mana kelemahan gue daripada dia, sehingga gue mengambil kesempatan lain dengan keuntungan yang sama besar (semoga). 

Tapi tentu ada yang nggak setuju dengan pemikiran gue tadi. Salah satunya adalah temen gue, sebut saja dia Ranting. Ranting, seperti kebanyakan orang tahu, dia bukan orang yang hebat yang menang olimpiade di mana-mana. Dia hanya pelajar laki-laki biasa berusia 15 tahun yang memiliki mimpi, tapi semakin kesini, gue semakin sangsi, apa itu mimpi yang dia punya, atau sekedar obsesi. 

Semenjak SMA, ada banyak perubahan dari dia. Mulai dari fisik, sampai psikologis, semua berubah 180 derajat. Gue seakan nggak mengenal dia sekarang, dan semua orang setuju, dia sudah berubah. Bukan Ranting yang gue kenal dulu, bukan Ranting yang bisa gue ajak bercanda, jalan-jalan, ketawa-ketiwi, curhat, dan lain sebagainya. 

Hari ini, gue semakin tersadar perubahan dalam diri Ranting. Dia, begitu terobsesi akan seseorang yang dia anggap sebagai panutan. Dia, meniru segala tingkah laku seseorang pujaannya. Dia, mencoba menjadi seseorang yang ia puja, bahkan membaca novel yang dibaca seseorang yang ia puja, padahal, selama ini, dia nggak pernah baca novel, kecuali terakhir, pinjem Cinta Brontosaurus nya Raditya Dika dari gue. 

Dia bilang dia punya mimpi, ingin begini ingin begitu. Dia bilang dia sedang berusaha menggapai mimpinya. tapi kenyataannya yang dia lakukan hanya menghabiskan waktunya untuk berkiblat dan mematuhi seseorang yang ia jadikan panutan - yang ia panggil senior. Dia tidak pernah belajar, kata seorang teman gue. Sepulang sekolah dia hanya sibuk dengan organisasi yang ia dewa-dewakan, dan pulang ke rumah sore hari dalam keadaan lelah. Oh, pantas. 

Gue semakin yakin, yang ia punya bukan mimpi, tapi obsesi. Mimpi itu sesuatu yang luhur yang kita ukir perlahan-lahan dengan ketulusan dan pada akhirnya (InsyaAllah) dapat terwujud seperti yang kita inginkan. Obsesi dipenuhi nafsu, keinginan untuk meng-imitasi dan dilakukan dengan ambisi yang tinggi tanpa memedulikan kemampuan diri sendiri. 

Sayangnya, gue nggak bisa berbuat apa-apa untuk menyadarkan Ranting. Gue terlalu takut untuk bilang, karena gue juga nggak yakin opini gue sepenuhnya benar. Gue inget banget, Ranting tadi bilang ke salah seorang teman gue, 

"Gue pengen memperbaiki hidup gue.."

Sebagai teman, gue cuma bisa berharap semoga hidup Ranting bisa lebih baik di masa yang akan datang.