Jumat, 21 Juni 2013

Golongan Terinjak

Ibarat bangunan, mungkin yang satu ini kurang semen. Ibarat roti, yang satu ini jelas kekurangan tepung. Tapi semua ini bukan karena harga-harga naik, tapi memang tidak ada usaha untuk membeli semen ataupun tepung. 

Beginilah keadaannya. Kepala laki-laki jelas berbeda dengan semrawutnya pikiran perempuan. tiga lawan lima, jelas tidak terdengar jeritan berisik tiga perempuan ini. Atau mungkin perasaan saya saja? Ah tidak. teman saya (yang juga perempuan) sudah pernah mencoba berbicara, tapi respon yang muncul justru jauh dari yang diharapkan. 

Kalau sudah tidak kajen begini, sebenarnya ingin marah, ingin minggat, tapi tidak bisa. Biar saja begini, mengalah. Yah, walaupun sebenarnya sudah bosan untuk ngerteni sikap dan dinamika mood-nya yang selalu naik turun tidak stabil. Sering sekali menemukan ulat sing bening leri. Sedih juga ya. 

Ah sudahlah. Saya menyerah saja. Pura-pura tidak ada secuil pun masalah di antara kita berdelapan. Mungkin di atas visi yang berdiri di atas semua golongan, saya termasuk salah satu golongan yang Anda injak, Mas. 

Selasa, 30 April 2013

Momen Apresiasi

Hari ini saya dan beberapa teman saya dikagetkan oleh sebuah pujian. Mungkin bukan suatu pujian yang besar, lebih seperti respon positif yang membuat saya dan beberapa teman saya besar kepala.

"Nah, ipa 3 persiapannya sudah bagus."

Hanya lima detik, ucapan beliau, rasanya perjuangan saya dan teman-teman selama dua tahun ini berhasil meluluhkan hati seorang seniman.Kami benar-benar merasa dihargai, terlepas dari ekspresi si-ibu yang selalu terlihat cemberut setiap kali menyaksikan kami beraksi. Tadi benar-benar momen yang sangat apresiatif. 

Lain tadi, lain kemarin, dan mungkin 18 hari lagi, ketika kata apresiasi tidak seindah dan semudah tadi siang. Apapun bentuk seni itu, pasti bermakna, entah bagi senimannya atau yang lebih baik bagi seluruh penontonnya. Saya akui, menjadi arsitek panggung seni tidaklah mudah. Membujuk orang untuk mengapresiasi seni pun tidak mudah. Kebanyakan menilai dari jam terbang dan nama besar. Jarang ada yang berpikir bahwa uang tidak jatuh dari pohon seperti daun.

Saya bukan ibu guru seniman yang memiliki selera seni dan kepekaan telinga yang tinggi, hanya saja saya  ingin menyediakan wadah bagi para seniman yang ingin karyanya dilihat. Panggung seni ini bukan tentang kualitas, jam terbang, apalagi nilai. Seni itu bebas, seni itu memiliki jiwa independen, tidak bergantung pada kotak-kotak rigid yang membatasi cara pandang orang yang sempit pikirannya. Seni itu murah, tidak perlu puluhan juta untuk memanggil mereka - orang-orang kaya metropolitan yang hanya naik panggung 30 menit. 

Kamis, 21 Maret 2013

Genggaman

Dia tidak jauh dari genggaman. Hanya saya yang belum dapat melihatnya.

Tentang slogan

Kemarin, dalam perjalanan ke Semarang, saya menemukan slogan Bangun Desa, Nata Kutha. Ini sebelumnya maaf lho, entah slogan siapa, saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan, karena saya yakin slogan ini dipenuhi visi misi yang bermutu untuk rakyat.

Jadi kita mulai dari frasa pertama. Bangun Desa. Mungkin lebih luwes ditulis (m)bangun desa, pakai em. Ide dari frasa pertama ini sangat baik. Membangun desa. Selama ini kita semua berpikiran bahwa di desa itu masih banyak kekurangan, terutama fasilitas. Entah fasilitas kesehatan, pendidikan, atau transportasi. Maklum, tempatnya kan kethip, sulit dijangkau dan penduduknya sedikit. Kalau begitu rakyatnya apa juga sama kekurangannya seperti kekurangan desa tadi? Wah tidak. Banyak yang bilang orang desa itu justru sugih-sugih. Cuma penampilannya saja kok. Tapi sepertinya there's no big deal dengan penampilan. Yang penting kesejahteraan kan? Karena terkadang penampilan nyeleneh justru jadi khas dan menghibur. 

Eh kok ngelantur saya nulisnya. Jadi kita kembali ke slogan tadi. Kalau yang dimaksud dengan membangun desa itu membangun dari banyak sisi seperti dari manusianya diberi banyak penyuluhan tentang pertanian organik, tentang usaha padat karya dan macam-macam, wah oke sekali. Kalau dari sisi fasilitas ditambah puskesmas yang lengkap + dokter jaga + ambulan lebih bagus lagi. Pokoknya hal-hal fundamental ditingkatkan di desa, itu baru mbangun desa. Tapi, akan seberapa jauh desa itu dibangun? bukankah pembangunan seharusnya terus bergerak karena banyaknya kebutuhan? bukan tidak mungkin desa bisa jadi kota lha wong daerah Tembalang yang dulu hutan belantara saja bisa jadi kos-kosan.

Sekarang Nata Kutha. Kalau setahu saya, segala sesuatu yang ditata (diberi tindakan penataan) biasanya dari hal yang tidak tertata atau berantakan. berarti maksudnya kutha / kota itu berantakan. Apanya yang berantakan? banyak. Orang, infrastruktur, birokrasi, ya pokoknya banyak, saya juga tidak mau sok tahu. Yang menjadi pertanyaan, dari mana mau menata kota? apa dari semua sudut langsung dihajar, atau dari sudut ini atau itu dulu. Kalau saya yang diminta menata kok orangnya dulu ya. Tapi yang jadi masalah, menata orang itu susah. Metodenya harus seperti apa saja saya tidak tahu.

Saya hanya berharap, siapa pun yang melaksanakan slogan tersebut dapat mencapai tujuannya untuk membuat rakyat sejahtera. Jangan mikir yang aneh-aneh lho, apalagi sampai punya istri tiga seperti Pak Djoko, eh. Yah pokoknya semua tergantung niatnya lah. Saya ingat kata teman saya isyfan, 

Niat adalah hal fundamental. Tindakan  adalah titik bifukarsinya. 

Semoga semua orang mengerti. Selamat sore.