Sabtu, 02 Maret 2013

Panggung Sepak Bola

Semalam saya menonton El Clasico, ya meskipun saya tidak begitu suka kedua tim, namun rupanya laga di markas Real Madrid itu lebih menarik daripada buku agama saya. Seperti biasa, seperti prediksi para penulis berita, El Clasico berjalan panas, diwarnai puluhan pelanggaran, dan kontroversi. 

Saya memang jarang menonton El Clasico full time, tapi semalam entah mengapa saya tertarik menonton lanjutan La liga tersebut sampai final whistle ditiupkan wasit Miguel Perez. Match yang pada akhirnya dimenangkan tuan rumah itu pun mendapat banyak komentar, baik dari para pecinta Madrid, maupun Barcelona. Bahkan hoax sempat muncul, akibat kartu merah yang diberikan wasit pada kiper Barca Victor Valdes pada ujung laga. Media yang tidak bertanggung jawab tersebut mengabarkan Valdes memukul Pak Wasit di ruang ganti. Untung saja, stakeholder pertandingan langsung meralat berita tidak benar tersebut. 

Sejak SD saya memang suka menonton sepak bola, karena bagi saya pertandingan sepak bola merupakan paket lengkap pengetahuan tentang olahraga itu sendiri serta hiburan sekaligus. Hiburan jalannya pertandingan, dan juga para punggawa-punggawa yang tampan (jujur). 

Akan tetapi, setelah hadirnya berita tentang perjudian semacam fixing score di banyak pertandingan sepak bola di Eropa, membuat kepercayaan saya terhadap pertandingan-pertandingan sepak bola berkurang. Apakah benar, laga kontroversial Madrid-Barca yang selalu seperti itu panasnya memang alami dari tumbukan kemampuan para pemain hebat di liga spanyol, atau, sebuah panggung hiburan yang memang sudah direncanakan? 

Mungkin sudut pandang ini terkesan overgeneralizing bahwa semua pertandingan bola di eropa sudah tidak bersih lagi. Akan tetapi, kita semua tahu, hal-hal yang melingkari si kulit bundar merupakan komoditas yang sangat dekat dengan uang. Ketika uang hadir, bukan tidak mungkin pertandingan bisa diatur sangat menarik, atau bahkan jauh dari prediksi para penulis berita. 

Kini banyak lapangan sepak bola tak ubahnya panggung sandiwara di mana para punggawa tim menjadi aktornya. Diving mungkin hanya sebagian kecil dari akting para pemain bola. Di balik hasil dari suatu pertandingan, mana bisa kita para penikmat sepak bola tahu yang terjadi sebelum maupun sesudah pertandingan tersebut? Kalau ada media yang mengabarkan insiden ini-itu di ruang ganti, berita itu tentu tak lebih dari berita permukaan.

Saya tahu, dengan menulis seperti ini mungkin sedikit mencoreng citra dari pertandingan-pertandingan sepak bola di dunia. Akan tetapi, saya sendiri sebenarnya "sakit hati" mengetahui adanya fenomena fixing score yang diotaki warga Singapura  itu. Yang saya inginkan, semua pertandingan tetap tersaji bersih dengan sportivitas sebagai jantungnya. Akan tetapi, saya tidak punya uang untuk mengaturnya, apa boleh buat?

Senin, 25 Februari 2013

Mimpi Kerdil

Saya tidak pernah menyadari seberapa besar mimpi saya, hingga pagi ini, saat upacara bendera saya tersadar. Saya tidak pernah menganggap mimpi itu bisa menjadi kenyataan, intinya, saya tidak pernah mencoba "Membesarkannya".

Ya, saya berusaha sekuat mungkin, juga berdoa. Saya mencoba untuk tidak gegabah dan tidak ambisius. Saya tidak bisa berkata itu cukup atau kurang, salah atau benar. Selama ini hanya itu yang saya lakukan tanpa menutrisi mimpi saya dengan "gizi" yang tepat. 

Sampai detik ini pun saya masih tidak yakin dengan "nutrisi" apa yang seharusnya saya tuang pada mimpi saya yang kerdil ini. Saya masih pusing dengan rumus-rumus fisika-kimia-matematika yang menghantui hari-hari saya H-7 UTS ini. 

Akan tetapi, amanat pembina upacara pagi ini seakan menampar saya. Selama ini saya rasa saya hanya terjebak dalam permainan mereka-mereka yang bersatu dan berusaha meraih mimpi-mimpi dan ambisi mereka, dan saya hanya seorang diri. Lemah, dan sendirian. 

Saya pikir saya sudah cukup kuat untuk menjadi seorang petarung tunggal, namun kiranya belum. Usaha membesarkan mimpi itulah yang belum saya penuhi. Mimpi kerdil itu harus perlahan dibesarkan, di tengah keterbatasan waktu maupun sarana. Semua itu hanya butuh kesabaran.
You'll be a forever loser if you keep on being jealous at some others' BIG dreams. 
(Flag Ceremony - this morning)

Senin, 28 Januari 2013

Dependensi

Setiap orang berbuat kesalahan, setiap orang dapat menyadarinya, dapat pula tidak. Setiap orang dapat memaafkan kesalahan, dapat pula tidak. Namun kondisi tersebut tidak akan berjalan lama. Hidup harus terus berjalan, dan dependensi selalu muncul tak berkesudahan. Tidak selamanya kita harus independen, karena dependensi justru dapat menyatukan kita. Tiap individu bahkan suatu negara, selalu butuh orang lain, baik hubungan antarindividu hingga hubungan internasional. Dependensi selalu ada, dan dialah yang menyelesaikan masalah kita semua.

Kamis, 10 Januari 2013

Tolong Katakan

Tolong Katakan pada Saya, bahwa Saya tidak pantas mendukung Anda. Saya terlalu merepotkan Tim, dan Saya sama sekali tidak dapat membantu Anda meraih Gelar Juara yang Anda inginkan. 

Tolong Katakan pada Saya, bahwa Saya memang pecundang yang gagal mewujudkan visinya. Tolong Katakan saja bila Anda enggan membantu. 

Tolong Katakan pada Kami bahwasanya Kami ini terlalu banyak melakukan ketololan. Kami tidak kreatif sama sekali. Kami bukan penemu, tidak seperti Anda. Kami hanya pengikut yang sok sibuk, padahal, tidak sukses mengorganisasikan acara. 

Tolong Katakan semua itu  pada Kami. Tentu akan kami dengar, dan kami juga akan buktikan. #GaneshaArmy