Rabu, 19 September 2012

Some people do not use their ___________ nicely. 

brain
hand
tongue
eyes
ears
ability
chance
faith



Kamis, 13 September 2012

Otak

Gimana rasanya dapet nilai MIPA 100? seneng? loncat-loncat? teriak-teriak? atau lari marathon karena emang nggak pernah ngerasain? 

Gue belum pernah ngerasain, dan gue juga nggak akan lari marathon karena dapet 100. 
Ada sebuah pertanyaan di benak gue beberapa hari ini. Apakah orang pintar itu mereka-mereka yang selalu mendapat nilai bagus di pelajaran MIPA? Jawabannya tentu saja IYA, since gue sekarang masuk jurusan IPA. Jadi di mana-mana orang pinter ngitung, orang pinter analisis, pinter logika, pinter whatsoever tentang hal-hal exact yang sometimes full of shit (in my opinion).

Pernah gue berpikir untuk memiliki empat otak - yang definitely nggak akan bisa - tapi Alhamdulillah udah punya satu. Kalau gue punya empat otak, gue akan menggunakan otak pertama untuk memikirkan pelajaran formal - something like kegiatan akademis di sekolah. whatever mapelnya, gue berusaha untuk suka. 

Otak kedua akan gue pakai buat bersosialisasi, berorganisasi. Mengapa? karena berorganisasi tanpa otak itu the real shit. banyak hal yang akan didapat di organisasi - sosial dan sebangsanya ini. Kemampuan otak jelas sangat dibutuhkan karena bekerja di lapangan jauh lebih keras daripada bekerja di dalam kelas. (Asli, gue udah ngebuktiin). 

Otak ketiga gue manfaatkan untuk belajar ketrampilan non-akademik seperti seni dan olahraga. both, are things yang gue suka dan nggak bisa gue tinggalkan. tapi sayangnya, gue nggak bisa serius menggeluti mereka karena si akademik minta porsi lebih banyak. Padahal sebenernya, seni dan olahraga ini lebih sulit dipelajari dibanding si akademik. 

Otak keempat khusus buat kebutuhan rohani. Apa aja deh yang ada hubungannya sama batin, hati, perasaan, keyakinan. Otak yang paling sakral diantara semuanya. 

Besok gue ada ulangan biologi, dan mungkin matematika, ditambah bahasa Indonesia. kalau gue punya keempat otak di atas, nggak usah belajar ngoyo pasti udah bisa. tapi otak gue cuma satu dan malam ini gue justru nulis di blog - sesuatu yang gue katakan nekat. 

Sebenernya nih otak juga udah ogah diajak belajar yang dia nggak suka. kalau boleh gue milih pelajaran sesuka gue, nih otak udah pasti nyuruh-nyuruh gue ambil 2 mapel ips 2 mapel ipa dan 2 mapel bahasa. terus ambil olahraga renang sama lari, ambil seni gitar sama biola. Masalahnya ini Indonesia, di mana otak-otak tak berdaya harus patuh menerima jatah mereka dari kurikulum yang dibuat negara yang katanya besar ini. 

Rabu, 25 Juli 2012

Si Kecil

Si kecil terlelap di atas sajadah mungilnya, diselimuti sajadah ibu yang besar. tidurnya begitu nyenyak di tengah riuh anak-anak lain yang bermain di luar mesjid. mungkin Si kecil lebih senang bermimpi akan hari anaknya daripada harus berlari-lari di luar bersama teman-temannya yang lain. 

sekitar sepuluh menit sebelumnya, Si kecil masih berjalan-jalan di dalam masjid dan sebelumnya juga masih dipeluk-peluk Ibu. Si kecil begitu lucu layaknya bocah enam tahunan yang ikut menyambut ramadhan dengan sholat tarawih bersama neneknya. Selepas ibu memeluk Si kecil cukup lama, gue terkejut sewaktu melihat ibu seperti menahan tangis. 

Ternyata Si kecil yang lucu itu sudah tidak punya ibu. Si kecil dan kakaknya yang masih SD kehilangan ibu mereka sekitar beberapa bulan yang lalu - atau bahkan tahun lalu - gue lupa. Gue inget ada tetangga gue yang meninggal, tapi gue nggak ngeh kalau itu ibu Si Kecil. Mendadak gue pun ikutan iba, dan suasana tarawih gue pun dihiasi sentlap-sentlup dari gue dan ibu. 

Si kecil nggak sendirian, keponakan gue sendiri, juga merasakan hal yang dirasakan Si kecil dua tahun lalu. sekarang, keponakan tersayang gue sudah bisa tumbuh besar dan bersekolah seperti teman-temannya yang lain - yang masih memiliki ibu. 

Si kecil memang tidak harus bersedih, apalagi menderita. Si kecil tetap harus tumbuh besar seperti anak-anak lain meskipun di bawah asuhan neneknya. Si kecil pasti pun bisa meraih apa yang ia inginkan. 

Sabtu, 14 Juli 2012

Auf wiedersehen zehn zwei!

it was started here

and we were the worst of them all. 

but who cares? It's our faith to be united. 
though we fell down, though we never won, though it was such a hard time to through all the waves but it was nice to be united as a Zehn Zwei

Danke, und Auf wiedersehen Freunde und Freundinnen! 

adam | luthfy | keke | hasna | astrid | aulia | benita | clara | hafidh | hana | 
hendry | tiva | isti | isyfan | laely | raka | diki | zaky | ais | hafiz | ovan | tomi | 
resva | rifa | thesa | sonya | sari | tika | vista | ayuk | me

Senin, 25 Juni 2012

Sholat Khusyu' itu Mudah

One day, gue nggak sengaja lagi cari-cari buku di rak, dan fancy finding this book 


Jujur, pertama kali lihat judul bukunya, gue langsung tertohok, since gue merasa selama ini ibadah gue kurang khusyu'. menurut buku itu, modal sholat khusyu' cuma ada 5 :

1. Jadikan sholat sebagai kebutuhan utama dari jiwa.
2. Pelajari dan pahami kembali ilmu sholat.
3. Siapkan waktu khusus dan cukup untuk mengerjakan sholat.
4. Lakukan sholat dengan penuh ketenangan dan kesungguhan.
5. Berhentilah mengerjakan dosa dan maksiat.


Dalam kenyataannya, di beberapa sholat gue seperti ini : 

Allahu Akbar. (Aduh, mukenanya bau). Allahu Akbar (Lhoh, kok mukenanya merosot-merosot gini sih). Samiallahuliman hamidah. Allahu Akbar (Aduh, kebanteren sujude). Allahu Akbar. Allahu Akbar (Eh, iki mau rakaat kepiro) dst, dst.. 

See.. teori itu mudah, dalam kenyataannya, ketika kita sholat di tempat umum, saat banyak gangguan, banyak hal yang harus dikerjakan, sholat khusyu' itu susah. Tapi, walau bagaimanapun juga keadaannya, kita tetap harus beribadah se-khusyu' mungkin. Masalah diterima atau tidak, bukan kuasa kita.