Kamis, 08 September 2011

Toilet Rp 15.000,00

Ini cerita konyol gue
suatu siang, sepulang sekolah, gue kebelet pipis. yah, tiba tiba aja kebelet pipis. nggak ada angin nggak ada ujan gue kebelet pipis sepulang sekolah. 

Logikanya, kalo emang gue kebelet pipis, harusnya gue cepet cepet pulang dan pipis dirumah. Atau yang kedua, gue harus cepet cepet ke toilet buat pipis. Pilihan kedua gue ambil. 

Gue mencari toilet terdekat sama kelas gue, yang notabene di lantai dua. Naas, airnya habis. Gue nyari juga toilet di deket GSG. Naas lagi, masih belum jadi. Gue ke toilet nya kelas 12. Naas lagi dan lagi, airnya habis juga. Gue pipis dimana dong??!!

Saat itu gue kebingungan dan gue ditemeni dua orang temen gue. Thesa dan Lia. Gue galau abis mau pipis di mana. mereka udah baik nganter gue muter-muter toilet. cuman satu yang gue bingung. mereka dari tadi asik ngeliat ke lapangan. Yes, mereka menikmati pemandangan lapangan upacara yang lagi diratain sama alat-bobrok-lambat-warna-kuning. Gue nya udah mau ngompol gini mereka malah ngeliatin lapangan? mereka emang ajaib. 

nggak cuman soal lapangan, sampai di luar gue udah bersikeras ngejakin mereka pulang. lah, mereka malah pengen beli jus! Astagaaaaaaaa >< oke. gue baik kok. gue tungguin mereka beli jus. Sampai pada akhirnya mereka punya ide buat makan + cari toilet. bukan, ralat. cari toilet + makan. 

kebodohan selanjutnya adalah yeah, kita mau makan dimana. Setelah rutinitas perdebatan yang cukup panjang, kita memutuskan makan di kedai steak belakang sekolah. Oke, gue setuju, asal ada toiletnya. 

makanlah gue. bukan, pipislah gue disana. Legaaa! gue bisa minum juga akirnya. Dan gue simpulin juga, ternyata, kebelet pipis juga bisa bikin gue laper. nggak nyambung? biarin. emang waktu itu gue laper. Akirnya gue mesen satu porsi chicken steak dan segelas jus melon. Menurut gue itu udah irit, iriiiiiit banget. 

Selesai makan, gue bayar di kasir. Mbak-mbaknya bilang "Lima belas ribu" Gue keluarin deh uang Rp20.000,00 dari dompet gue. Masih ada kembalian lima ribu gue pikir. 

Akhirnya gue pun jalan pulang. setelah gue pikir-pikir, gue pulang sesore ini hanya untuk mampir ke toilet?! astaga! dan bayar lima belas ribu? astaga! dan gue dengan bodohnya iya-iya aja? astaga! 

Jadi ini kesalahan siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?

Tau gitu mending tadi gue pipis di toilet guru ato kepala sekolah kalo perlu. Gila! cuman buat pipis aja gue bayar 15 ribuu?! pokoknya gue nggak mau pipis disitu lagi. dan kalo emang di toilet siswa udah nggak ada air, dengan sangat menyesal gue bakal pipis di Toilet guru.

Kamis, 01 September 2011

END of a friEND

This is the reason why I love my friends more than I love my boy

gue selalu menangis tiap ditinggal temen, tapi ga pernah nangis ditinggal cowok

# gue nangis waktu temen SD gue pindah ke Surabaya
# gue nangis waktu temen (sahabat) gue sekolah di SMP yang berbeda, dan jadi pribadi yang berbeda
# gue nangis waktu kelas gue kalah sama kelas sebelah
# gue nangis waktu lia nggak sekelas sama gue (bukan gue ding yang nangis, lia doang)
# gue nangis waktu wasana warsa (more to my exam result actually)
# gue hampir nangis waktu pravithea pindah ke malang

kesimpulannya, gue adalah orang tercengeng se Indonesia.

Sekarang, gue hampir nangis lagi. tapi belum. ogah ah nangis mulu. ntar kotak nangis gue rusak lagi. kan nggak lucu kalo kayak spongebob squarepants. 
Hal yang gue takutin entah udah ato hampir ato mungkin bakal terjadi. Losing a friend, again. dulu, gue kehilangan sobat karib SD gue yang udah gue kenal 6 tahun. Suddenly she changed karena pergaulan kita yang berbeda. Gue SMP 1 dia SMP mana aja boleh. Dulu dia pinter, sekarang dia goblok. Dulu gue nyambung sama dia, sekarang kita wireless. Ngerti maksud gue kan?

Waktu SMP gue punya beberapa sahabat. jujur, berat banget gue nulis kata 'sahabat'. Esensi dari kata 'sahabat' itu sekarang gue bingungin sendiri. ada yang bilang sahabat selalu ada, sahabat selalu ini itu bla bla bla. Adakah syarat menjadi seorang 'sahabat' ? 

Gue punya satu sahabat karib dari TK. dan emang dia satu-satunya yang awet jadi sahabat gue. gue nggak tau dia sebenernya betah ato enggak, tapi berhubung kita sekelas udah 12 tahun ini, mau nggak mau we never lost contact. 

Gimana kalo gue kehilangan kontak sama sahabat gue? gue jadi meragukan lagi sandangan sahabat itu. Jujur, gue trauma. traumaaaaaaaaaaaa banget kehilangan temen deket gue yang gue sebut 'Sahabat'. Gue jadi takut kasih kata sandang 'Sahabat' buat orang-orang yang deket sama gue. Gue takut ke-Ge er-an. Gue anggep dia sahabat, dia anggep gue budak. kan nggak lucu juga. 

Mungkin kedepannya, gue cuma bisa ngasi kata sandang 'Teman Dekat'. Yeah, gimanapun juga gue mending punya temen yang-ga-terlalu-deket tapi bisa temenan selamanya daripada punya Sahabat tapi cuma sesaat. Positive thinking, gue cuma ababil, dan gue yakin, Aang bisa menyelamatkan dunia.

wassalam

Selasa, 23 Agustus 2011

Goobye mr. Guitarist

This is a sad story from me. 
Suatu sore, dua atau tiga minggu lalu, sepulang main gue dikasi tahu sama ibu, tadi tempat les gitar gue telpon dan ngasi tahu kalo guru les gitar gue mengundurkan diri. What? Resign?. Firstly I thought, ARE YOU FU*KING KIDDING ME???!! 

gue nggak percaya. banget. Sabtu sebelumnya, jatah gue les, mr. E - sebut saja itu guru gue - sms bilang kalo dia nggak bisa ngajar sabtu itu dan nawarin gue hari minggu nya. Unfortunately, pas hari minggu itu gue udah punya jadwal buat nonton Harry Potter - dan ternyata demi Harry Potter 7 gue kehilangan kesempatan terakir belajar dengan Mr. E. Oh shit!

Okay, gue pilih Harry Potter semata-mata karena takut keburu filmnya habis di pasaran dan juga gue nggak nyangka kalo guru gue bakal resign. dia juga nggak pernah bilang kalo mau keluar dari tempat les musik itu.

2 minggu kemudian ada guru baru nggantiin Mr. E. guess what? gurunya benar benar diluar perkiraan gue. He's such a.. ah gue nggak bisa dan nggak sampe hati mau bilang. yang pasti, gue nggak nyaman. nggak asiklah pokoknya. gue mau Mr. E baliiiiiiiiiiiiiik!

bayangin aja, setelah setahun lebih gue belajar sama Mr. E, yang orangnya asik banget, enak diajak ngobrol, curhat, dan ngertiin gue banget, tiba tiba? gue yang dulu semaunya minta lagu, yang minta diajari ini itu, Mr. E sabarnya minta ampun sama cerewetnya gue, bahkan selama 1,5 jam les, kita lebih banyak ngobrol daripada belajar skill. dan gue nggak masalah. justru ngerasa asik dan enjoy aja. 
mau nggak mau sekarang gue harus rela sama guru baru. bagaimana pun karakter dia. tapi gue juga masih berharap ada guru lain yang ngegantiin dia. please, the better one, pokoknya yang lebih asik dikit, karena gue les gitar bukan buat yang serius-serius amat, gue cuma butuh hiburan.

Sabtu, 23 Juli 2011

Brand New Days

Why do I write the title "Brand New Days" ?
tentu saja karena gue udah masuk SMA. jadi ceritanya, gue udah bukan anak SMP lagi dan memulai hari hari baru di sekolah yang baru. Voila! wearing new uniform dengan logo 'Ganesa' di bawah lokasi. bangga? cukup lah. mau kemana lagi? satu satunya tujuan gue ya kesini, terlebih masuk ke SMA 1 juga nggak gampang kok, butuh pengorbanan yang cukup besar. 

Masuk ke kelas baru, suasana nya jelas beda banget sama kelas bilingual gue. meskipun sekolah gue ini RSBI, tapi nggak persis kayak SMP gue dulu. nggak ada karpet, nggak ada AC, dan nggak ada komputer. kursi nya juga dari kayu yang keras nggak bisa deh gue glesotan di bawah. 

teman teman baru masih pada jaim. sebenarnya mayoritas dari SMP gue sih, cuman kok ya beda ya. secara isinya juga orang orang berotak seperti hasna, raka, vista, dan lain lain. kalo boleh jujur, nggak seseru kelas gue yang dulu dulu. nggak sekompak rebel, nggak serame nebeng. gue jadi ngerasa homesick. kangen suasana saat SMP dulu. tapi mau gimana lagi. masa gue mau SMP terus? haaahhh gila aja. 

salah seorang temen gue yang berbeda kelas malah ngerasa 'kehilangan'. dia bilang sahabat dia yang beda kelas udah berubah, ini itu dan segala macam. tapi inilah suasana SMA. baju baru, pelajaran baru, teman baru, kebiasaan baru, semuanya serba baru. dari sinilah gue harus belajar. menjadi pribadi yang baru, di hari hari kedepan, agar gue nggak nyesel nanti nanti. 

Senin, 04 Juli 2011

Damn, It was a Farewell!

Well, It was a farewell. the 3rd of July, 2011


Never thought I would face this. yeah we call it a 'Farewell' to describe the last moment together - having lunch together - taking some pictures together, wishing we won't forget all our memories.

We had lunch at a restaurant - if I may say -  ordered some meals and drinks. laughed as if we would meet again in a few days. Honestly, I didn't feel it was like a farewell. It was an ordinary lunch. But I think I will feel that it was very last moment before we start our new part of our lives, soon.

Andiline, Pravithea, Thesa, Aulia, Tsania, Elsa and me. No, we're not 7 icons - far from 'em. We're not a 'gank' we're just friends. close friends. Talking about everything. Bad, good. Sad, happy.

 But then time goes by, everything is changing - should be changing. Live is going - must be going. Pravithea decided to leave for Malang. The place where I have no idea to figure out. Firstly I didn't believe she would. but now, I believe in everything we take.

Andiline, Thesa, Aulia, Tsania, Elsa and me, decided to stay. stay in this little town. chase our dreams, and will always wait for Pravithea to come back, someday.

Goodbye to you my trusted friend 
We've known each other since we were nine or ten 
Together we've climbed hills and trees 
Learned of love and ABC's 
Skinned our hearts and skinned our knees 

We had joy we had fun we had seasons in the sun 
But the hills that we climbed were just seasons out of time 
(season in the sun - westlife)
this post is dedicated to Pravithea, sorry, I only have few words to say. Wish you can get the best in every step you take, every place you move to :)